------------
Beberapa minggu yang lalu saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. Saya berada di antrian kedua dari beberapa orang saat hendak membayar di kasir. Kami memang harus sabar dalam antrian ini karena saat itu sedang terjadi masalah di komputer kasir. Selang beberapa saat ada seorang bapak-bapak yang mulai marah, semakin lama semakin tak terkendali. Semua sumpah serapah, makian, binatang dan apapun dia keluarkan dengan suara besarnya. Sasaran kemarahannya tentu pada petugas kasir, yang dianggap kerja lamban, santai-santai, dan lebih memilih pembeli yang disenanginya. Walaupun menurut saya tidak demikian, namun yang namanya orang sedang marah tetap semua jadi salah dan masalah.
Beberapa minggu yang lalu saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. Saya berada di antrian kedua dari beberapa orang saat hendak membayar di kasir. Kami memang harus sabar dalam antrian ini karena saat itu sedang terjadi masalah di komputer kasir. Selang beberapa saat ada seorang bapak-bapak yang mulai marah, semakin lama semakin tak terkendali. Semua sumpah serapah, makian, binatang dan apapun dia keluarkan dengan suara besarnya. Sasaran kemarahannya tentu pada petugas kasir, yang dianggap kerja lamban, santai-santai, dan lebih memilih pembeli yang disenanginya. Walaupun menurut saya tidak demikian, namun yang namanya orang sedang marah tetap semua jadi salah dan masalah.
Yang saya tidak habis pikir kenapa orang tersebut sampai dengan hati mengeluarkan makian yang sangat keji untuk petugas kasir itu, walaupun saya juga kecewa namun tidak berhak kita memarahinya. Apakah dia tidak membayangkan betapa malunya perempuan itu dimaki-maki di depan orang banyak? Apakah dia tidak bisa membayangkan betapa hatinya hancur ketika dimaki dengan kata "babu"? Mendengar kata-kata keji itu sebenarnya saya terpancing untuk marah kepada pria tersebut, kalaupun orang itu masih nekat saya ingin menghajarnya. Tapi saya tidak terpancing dengan keadaan itu, toh nanti bakalan berhenti sendiri..hehehe.
Peristiwa berikutnya adalah ketika saya dan seorang teman sedang makan di sebuah warung padang. Waktu giliran teman saya, dia memesan minuman kegemarannya soda susu sedangkan saya seperti biasa es teh (kebiasaan orang jawa..hehehe). Namun ketika pelayan mengantar minuman ternyata dia berikan coca-cola susu ke teman saya. Melihat pesanannya yang tidak sesuai, teman saya langsung berdiri dan mengomel kepada pelayan itu. Tidak cukup dengan pelayan, dia menghampiri pemilik warung tersebut dan marah-marah. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan saya pesan lagi satu sesuai pesanan awalnya. Tentunya coca-cola susu itu untuk saya (alhamdulillah, walaupun ternyata saya yang bayar,,hehehe).
Malam ini pikiran saya kembali kepada dua peristiwa tersebut. Kenapa mereka berdua "bodoh" sekali sampai marah-marah seperti itu. Siapa kasir dan pelayan itu? apakah mereka benar-benar binatang atau berkelakuan seperti binatang? Tidak !! Kasir dan pelayan itu manusia, bukan binatang. Mereka bekerja menafkahi keluarga mereka. Dan kesalahan itu bukti manusiawinya mereka yang sudah lelah bekerja.
Untuk anda yang mudah marah, pikirkanlah dalam-dalam apakah orang yang anda marahi pantas untuk anda marahi. Kalaupun pantas apakah anda berhak memarahaniya, karena bagaimanapun juga anda sudah memarahinya namun tetap mau menerima pelayanan atau pemberian dari orang tersebut, bukankah itu ironi??
Sudahlah berhenti mengedepankan amarah, biasakan untuk tenang dan lebi bersabar. Karena itu jauh lebih terhormat untuk anda dan orang lain.

Memang tdk sepantasnya kita marah hanya utk hal yg sepele krn amarah hanya merusak suasana hati...
BalasHapusSeperti yg ku kenal, matin pasti slalu tenang & sabar dlm menghadapi situasi apapun.
One : iya ne namanya manusia jg diciptakan utk mengasihi satu sama lain. Oh iya blog kamu apa ne? suka nulis-nulis jg kan..hehehe
BalasHapus