Unsur Rasa Menentukan Harga

---------------------------------------
Ya begitulah, untuk sesuatu yang kadang tidak berguna secara materi dan konstruksi, justru terletak daya tariknya. Tidak bisa dijelaskan dimana sisi menariknya, dan saya yakin kalau anda bertanya ke penggemar lukisan atau bahkan langsung ke pelukisnya anda akan dibuat kecewa dengan penjelasan-penjelasan yang semakin membuat anda bingung karena njlimetnya. Sekedar gambaran untuk anda harga sebuah lukisan "Nyai Roro Kidul" Kaya Basuki Abdullah (alm) harganya mencapai milyaran. Sedangkan harga repro (copy-an) bisa mencapai  puluhan juta. Apakah masuk akal??

Berangkat dari rasa penasaran, saya mencoba browsing di internet. Sebagai langkah awal saya mencoba mencari-cari, mendownload kemudian mengamati gambar lukisan-lukisan dari beberapa gallery. Berjam-jam saya telateni mengumpulkan gambar-gambar. Setiap hari saya luangkan waktu beberpa jam untuk melakukan aktifitas tersebut. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan terus melakukannya..hehehe
Tidak masalah, saya akan terus melakukannya sampai rasa ingin tahu saya terjawab.

Sampai pada suatu saat saya melihat perbandingan sebuah foto kuda dan lukisan kuda. Pertama saya amati foto kuda. Yang saya lihat kesannya bagus namun saya biasa melihat foto yang lebih bagus atau minimal sama. 
Foto : Kuda

Lukisan Kuda

Ketika saya melihat lukisan kuda di bawahnya, saya merasa lebih berkesan karena ada emosi yang dihadirkan. Mungkin itulah yang membedakan lukisan dan foto. Yang saya rasakan adalah kesan yang sangat mendalam, dan itu tentunya akan bergantung pada diri kita masing-masing yang melihat dan menilai.
Sekarang akan kita bahas mengenai tingkat keindahan suatu foto. Saya tidak bermaksud membuat perdebatan dengan anda yang telah betul-betul menguasai teknik photography, karena saya menulis berdasarkan apa yang ada di pikiran dan hati saya. Kesan bagus tidaknya foto saya ambil dari momentum atau timing pengambilan gambar dan pengaturan cahaya. Sekali lagi itupun dari pemikiran saya sendiri, tidak tahu dari sudut pandang pakar ilmu photography sesungguhnya. Kenapa momentum atau timing? Karena saya melihat foto-foto pada saat yang tepat akan sangat mengena di hati kita, terlebih lagi yang tidak direncanakan terlebih dahulu. Ambilah sebuah contoh foto polisi yang mendorong mobil berikut ini :

Foto : Polisi Mendorong Angkot
Gambaran pikiran saya melihat foto tersebut adalah :
  1. Seorang Polisi yang memiliki kepedulian sangat tinggi yang rela membantu orang yang kesusahan, walaupun cuma sebuah angkot.
  2. Seorang polisi yang ikhlas membantu tanpa pamrih.
  3. Sebuah angkot yang tertangkap karena mangkal sembarangan di pinggir jalan
  4. dsb..
Yang menentukan kualitas foto selanjutnya adalah pencahayaan. Ini berdasarkan pemikiran saya yang sederhana dengan cahaya kita tahu nuansa foto itu. Seperti contoh foto berikut ini :

Foto : Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang
Untuk foto ini anda yang saya berikan kesempatan untuk menilai, membandingkan dan mengungkapan perasaan anda. Disini sebaiknya kita abaikan dulu aspek kualitas gambar & resolusi, karena akan sangat bergantung dengan tingkat kemahalan kameranya, yang menurut saya sudah masuk aspek materialistis..hehehe

Anda saya ajak kembali pada topik yang saya bahas di awal, kenapa harga lukisan mahal? Ini tentunya banyak aspek yang menentukan. Akan sangat njlimet seperti njlimetnya pikiran dan tingkah laku manusia. Namun ternyata dari beberapa forum yang saya baca, harga lukisan atau foto bisa berarti sangat mahal bergantung pada kesan rasa orang yang melihatnya. Apabila dia menganggap sebuah lukisan "berkesan" secara emosional dengan jiwanya, dapat bercerita secara batin dengan dirinya dan terlebih lagi sangat langka dan kuno, tentu orang tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan lukisan itu.

Masakan disukai karena aroma dan rasa yang dirasakan secara lahir
Lukisan disukai karena dapat memuaskan bathin
-----------------------------------
-----------------------------------

Tidak ada komentar:

Posting Komentar

Informasi Pilihan Identitas Jika Berkomentar:

Google/Blogger : Khusus yang punya Account Blogger.
Wordpress : Blog dengan account wordpress
Name/URL : Jika tidak punya account blogger namun punya alamat Blog atau Website.
Anonymous : Jika tidak ingin mempublikasikan profile anda.