Bagaimana Anda Memaknai Maulid Nabi

--------------------
Pemerintah menetapkan hari ini adalah hari libur dalam rangka memperingati Maulud Nabi Muhammad SAW. Mungkin maksud pemerintah menetapkan hari ini sebagai hari libur adalah untuk memberikan kesempatan kepada kita semua umat muslim untuk merayakannya dengan kegiatan-kegiatan pengajian, tabligh atau membaca sejarah mulai dari kelahiran Nabi Muhammad sampai dengan meninggalnya beliau dalam kegiatan maulid barzanzi (mohon maaf kalau penulisannya salah). Atau mudahnya negara memberikan kebebasan dan kelonggaran kepada rakyatnya untuk memperingatinya tanpa harus terganggu dengan waktu bekerja atau sekolah. Sekaligus tentunya pemerintah menyadari betapa pentingnya memperingati Maulid Nabi ini yang diharapkan dengan memperingatinya akan menumbuhkan sikap dan watak meneladani segala sifat dan berkah yang ada pada di Rasulullah Muhammad SAW. Diharpkan dengan sikap dan watak yang merasuk dalam watak dan sikap rakyat indonesia akan menumbuhkan sikap-sikap yang positif : siddiq, tabligh, fatonah dan amanah seperti yang ada pada diri manusia pilihan kekasih Allah, yakni Nabi Muhammad yang selalu kita nantikan syafaatnya di akhir jaman.

Jauh hari sebelum tiba hari ini, orang-orang sibuk mempersiapkan hari ini. Tidak untuk memperingati namun untuk menyiapkan liburan, tidak terkecuali teman-teman kerja saya..hehehe. Jauh hari pula mereka menyiapkan jadwal perjalanan, terlebih lagi liburan ini bertetapatan dengan hari selasa (hari kecepit; tanggung). Jadi tentunya sudah disiapkan rencan pengajuan cuti dan alasan tidak masuk untuk hari senin. Lihatlah berita tv pagi ini yang dipenuhi berita kemacetan di arah puncak bogor. Pertanyaannya adalah apakah pemerintah meliburkan hari ini agar rakyatnya pergi berlibur?? hehehe...Ya bolehlah berlibur  karena memang tidak dilarang, tapi setidaknya sedikit kita juga merenungi makna besar hari ini < ^_^. Kalau hari ini sekedar untuk liburan jangan sampai nanti pemerintah tidak lagi menetapkan hari ini sebagai hari libur. Toh  untuk apa diliburkan wong rakyatnya tidak menggunakan sesuai maksud diliburkannya.

Memang berita kemacetan di puncak Bogor membuat saya risau. Namun segera terobati dengan adanya berita kemacetan ke arah Istiqlal pagi ini, karena banyak masyarakat yang sedang berbondong-bondong hendak mengikuti kegiatan Tabligh Akbar. Yang membuat bahagia lagi adalah berita-berita di daerah-daerah yang semarak dengan kegiatan-kegiatan pawai menyambut peringatan Maulud Nabi. Ya bagaimana anda memaknai dan menyikapi hari peringatan Maulid Nabi ini tergantung pada diri anda masing-masing. Semoga peringatan Maulud Nabi ini bisa menghadirkan kebahagiaan dan kebaikan pada seluruh umat manusia, khususnya bangsa Indonesia..Amiin 2x

Ya Allah semoga Engkau berkanan menatakan bathin dan lahir kami dengan tatanan kebenaran dan kebagusan untuk mengikuti jalan Rasulullah sesuai qodrat dan iradat-Mu.
-------------

Mampukah Anda Mengendalikan Amarah ?

------------
Beberapa minggu yang lalu saya berjalan-jalan di sebuah pusat perbelanjaan untuk membeli pakaian. Saya berada di antrian kedua dari beberapa orang saat hendak membayar di kasir. Kami memang harus sabar dalam antrian ini karena saat itu sedang terjadi masalah di komputer kasir. Selang beberapa saat ada seorang bapak-bapak yang mulai marah, semakin lama semakin tak terkendali. Semua sumpah serapah, makian, binatang dan apapun dia keluarkan dengan suara besarnya. Sasaran kemarahannya tentu pada petugas kasir, yang dianggap kerja lamban, santai-santai, dan lebih memilih pembeli yang disenanginya. Walaupun menurut saya tidak demikian, namun yang namanya orang sedang marah tetap semua jadi salah dan masalah.

Yang saya tidak habis pikir kenapa orang tersebut sampai dengan hati mengeluarkan makian yang sangat keji untuk petugas kasir itu, walaupun saya juga kecewa namun tidak berhak kita memarahinya. Apakah dia tidak membayangkan betapa malunya perempuan itu dimaki-maki di depan orang banyak? Apakah dia tidak bisa membayangkan betapa hatinya hancur ketika dimaki dengan kata "babu"? Mendengar kata-kata keji itu sebenarnya saya terpancing untuk marah kepada pria tersebut, kalaupun orang itu masih nekat saya ingin menghajarnya. Tapi saya tidak terpancing dengan keadaan itu, toh nanti bakalan berhenti sendiri..hehehe.
Peristiwa berikutnya adalah ketika saya dan seorang teman sedang makan di sebuah warung padang. Waktu giliran teman saya, dia memesan minuman kegemarannya soda susu sedangkan saya seperti biasa es teh (kebiasaan orang jawa..hehehe). Namun ketika pelayan mengantar minuman ternyata dia berikan coca-cola susu ke teman saya. Melihat pesanannya yang tidak sesuai, teman saya langsung berdiri dan mengomel kepada pelayan itu. Tidak cukup dengan pelayan, dia menghampiri pemilik warung tersebut dan marah-marah. Untuk menghindari hal yang tidak diinginkan saya pesan lagi satu sesuai pesanan awalnya. Tentunya coca-cola susu itu untuk saya (alhamdulillah, walaupun ternyata saya yang bayar,,hehehe).

Malam ini pikiran saya kembali kepada dua peristiwa tersebut. Kenapa mereka berdua "bodoh" sekali sampai marah-marah seperti itu. Siapa kasir dan pelayan itu? apakah mereka benar-benar binatang atau berkelakuan seperti binatang? Tidak !! Kasir dan pelayan itu manusia, bukan binatang. Mereka bekerja menafkahi keluarga mereka. Dan kesalahan itu bukti manusiawinya mereka yang sudah lelah bekerja.

Untuk anda yang mudah marah, pikirkanlah dalam-dalam apakah orang yang anda marahi pantas untuk anda marahi. Kalaupun pantas apakah anda berhak memarahaniya, karena bagaimanapun juga anda sudah memarahinya namun tetap mau menerima pelayanan atau pemberian dari orang tersebut, bukankah itu ironi??
Sudahlah berhenti mengedepankan amarah, biasakan untuk tenang dan lebi bersabar. Karena itu jauh lebih terhormat untuk anda dan orang lain.

Jika Aku Menjadi

---------------------------
jika aku menjadi seperti yang lain hidup bercahaya
mungkin saja aku kehilangan rasa syukur, tak tersenyum dalam damai
coba kau jadi aku, sanggupkah bernafas tanpa udara
namun ku nikmati nasib dan takdir hidup ini bila Tuhan yang mau

jika aku menjadi berubah melawan garis yang tertulis
bukannya Tuhan tidak mendengar doa kita tapi Ia tahu yang terbaik
(cuplikan syair lagu "jika aku menjadi" by Melly Goeslaw)

Jika aku menjadi seorang pemulung dengan penghasilan yang jauh dari cukup, bukan berarti itulah cita-citaku. Tuhan telah menganugerahiku pilihan yang terbaik untuk-ku. Oleh karenanya aku tidak pernah mengeluh harus bekerja di tumpukan sampah, harus berjibaku dengan udara yang bau dan kotor yang orang biasa tentu tidak mau melakukannya, harus berdiri terpanggangg teriknya matahari, disaat yang lain harus kehujanan tanpa payung atau pelindung. Aku ikhlas walaupun setiap pagi aku tidak mampu memberi sarapan kepada anak-anakku, tidak bisa mengantar mereka pergi ke sekolah karena harus berangkat pagi-pagi untuk berebutan botol dengan sesama rekanku. Aku ikhlas walaupun setiap saat dikomplain anak-anakku dan istriku karena tidak mampu memberikan sesuatu yang mereka minta. Namun aku selalu sabar memberikan apa yang bisa aku berikan. Aku bersyukur karena ternyata Tuhan menganugerahiku anak-anak dan istri yang sholeh. Dalam suka dan duka, dalam situasi keterbatasan keluargaku cukup bahagia. Selalu aku sampaikan ke mereka bahwasanya materi tidak selalu mendatangkan kebahagiaan dan kedamaian.

Jika aku menjadi hanya seorang sopir angkot dengan penghasilan yang tidak tentu, bukan pula itulah keinginanku. Karena kemampuan dan pendidikanku memang hanya cukup menjadi sopir. Sedikitpun aku tidak kecewa atau bersedih dengan kondisiku. Aku juga tidak menyalahkan orang tuaku yang tidak menyekolahkan aku sampai perguruan tinggi. Aku justru sangat bersyukur mempunyai orang tua seperti mereka, yang telah mendidik dan menanamkan moral kebaikan dan ketulusan dalam diriku. Setidaknya akhlak-ku masih baik, aku tidak mencuri, aku tidak pernah membohongi juraganku, aku tidak curang seperti rekan-rekanku yang lain. Aku selalu bersyukur kepada Tuhan atas rezeki yang selalu dilimpahkan kepadaku dan keluargaku. Walaupun untuk mendapatkan setoran aku harus pulang sampai larut malam. Capek dan letihnya rasanya kalau dirasakan. Namun bagaimana nasib anak-anakku kalau aku tidak bekerja? Bagaimana aku dapat membantu mereka mengejar cita-citanya. Bagaimana nasib anak-anak sekolah, kuliah dan para pekerja yang setiap pagi aku antar ke tempat mereka sekolah dan bekerja.

Jika aku menjadi manajer suatu perusahaan yang bonafide. Kemana-mana aku pergi, akan selalu tersedia mobil untuk mengantar ke tempat tujuanku. Apapun yang aku minta, maka setiap saat stafku akan datang memenuhinya. Sekalipun itu sesuatu yang langka dan sulit dipenuhi. Ketika pakaian yang aku kenakan sudah terasa membosankan, dengan sangat mudah aku membeli yang lebih baik lagi. Namun aku merasakan keinginan yang tidak habisnya. Yang selalu akan muncul, ketika aku sudah mendapatkan yang aku inginkan kemarin. Aku seperti orang haus yang meminum air laut, semakin banyak aku meminumnya semakin haus tenggorokanku. Aku sepeti terpenjara oleh keinginanku. Aku seperti dikendarai dan dikendalikan nafsuku.

Terkadang orang yang kita anggap sepele, malah justru sangat berguna. Paling tidak untuk keluarga mereka. Terkadang orang yang kita anggap susah, justru kebahagiaan kita kalah sama mereka.  Terkadang orang yang terlihat sukses dan makmur, ternyata menderita.
Pandai-pandailah anda bersyukur dan mawas diri.

Unsur Rasa Menentukan Harga

---------------------------------------
Ya begitulah, untuk sesuatu yang kadang tidak berguna secara materi dan konstruksi, justru terletak daya tariknya. Tidak bisa dijelaskan dimana sisi menariknya, dan saya yakin kalau anda bertanya ke penggemar lukisan atau bahkan langsung ke pelukisnya anda akan dibuat kecewa dengan penjelasan-penjelasan yang semakin membuat anda bingung karena njlimetnya. Sekedar gambaran untuk anda harga sebuah lukisan "Nyai Roro Kidul" Kaya Basuki Abdullah (alm) harganya mencapai milyaran. Sedangkan harga repro (copy-an) bisa mencapai  puluhan juta. Apakah masuk akal??

Berangkat dari rasa penasaran, saya mencoba browsing di internet. Sebagai langkah awal saya mencoba mencari-cari, mendownload kemudian mengamati gambar lukisan-lukisan dari beberapa gallery. Berjam-jam saya telateni mengumpulkan gambar-gambar. Setiap hari saya luangkan waktu beberpa jam untuk melakukan aktifitas tersebut. Saya tidak tahu sampai kapan saya akan terus melakukannya..hehehe
Tidak masalah, saya akan terus melakukannya sampai rasa ingin tahu saya terjawab.

Sampai pada suatu saat saya melihat perbandingan sebuah foto kuda dan lukisan kuda. Pertama saya amati foto kuda. Yang saya lihat kesannya bagus namun saya biasa melihat foto yang lebih bagus atau minimal sama. 
Foto : Kuda

Lukisan Kuda

Ketika saya melihat lukisan kuda di bawahnya, saya merasa lebih berkesan karena ada emosi yang dihadirkan. Mungkin itulah yang membedakan lukisan dan foto. Yang saya rasakan adalah kesan yang sangat mendalam, dan itu tentunya akan bergantung pada diri kita masing-masing yang melihat dan menilai.
Sekarang akan kita bahas mengenai tingkat keindahan suatu foto. Saya tidak bermaksud membuat perdebatan dengan anda yang telah betul-betul menguasai teknik photography, karena saya menulis berdasarkan apa yang ada di pikiran dan hati saya. Kesan bagus tidaknya foto saya ambil dari momentum atau timing pengambilan gambar dan pengaturan cahaya. Sekali lagi itupun dari pemikiran saya sendiri, tidak tahu dari sudut pandang pakar ilmu photography sesungguhnya. Kenapa momentum atau timing? Karena saya melihat foto-foto pada saat yang tepat akan sangat mengena di hati kita, terlebih lagi yang tidak direncanakan terlebih dahulu. Ambilah sebuah contoh foto polisi yang mendorong mobil berikut ini :

Foto : Polisi Mendorong Angkot
Gambaran pikiran saya melihat foto tersebut adalah :
  1. Seorang Polisi yang memiliki kepedulian sangat tinggi yang rela membantu orang yang kesusahan, walaupun cuma sebuah angkot.
  2. Seorang polisi yang ikhlas membantu tanpa pamrih.
  3. Sebuah angkot yang tertangkap karena mangkal sembarangan di pinggir jalan
  4. dsb..
Yang menentukan kualitas foto selanjutnya adalah pencahayaan. Ini berdasarkan pemikiran saya yang sederhana dengan cahaya kita tahu nuansa foto itu. Seperti contoh foto berikut ini :

Foto : Masjid Agung Jawa Tengah di Semarang
Untuk foto ini anda yang saya berikan kesempatan untuk menilai, membandingkan dan mengungkapan perasaan anda. Disini sebaiknya kita abaikan dulu aspek kualitas gambar & resolusi, karena akan sangat bergantung dengan tingkat kemahalan kameranya, yang menurut saya sudah masuk aspek materialistis..hehehe

Anda saya ajak kembali pada topik yang saya bahas di awal, kenapa harga lukisan mahal? Ini tentunya banyak aspek yang menentukan. Akan sangat njlimet seperti njlimetnya pikiran dan tingkah laku manusia. Namun ternyata dari beberapa forum yang saya baca, harga lukisan atau foto bisa berarti sangat mahal bergantung pada kesan rasa orang yang melihatnya. Apabila dia menganggap sebuah lukisan "berkesan" secara emosional dengan jiwanya, dapat bercerita secara batin dengan dirinya dan terlebih lagi sangat langka dan kuno, tentu orang tidak ragu-ragu lagi mengeluarkan uang banyak untuk mendapatkan lukisan itu.

Masakan disukai karena aroma dan rasa yang dirasakan secara lahir
Lukisan disukai karena dapat memuaskan bathin
-----------------------------------
-----------------------------------